Mengapa Saya Bangga Menggunakan Endek Bali?

Banyak orang yang bertanya-tanya apa itu endek Bali? Apa itu sama dengan batik? Jawaban saya ya…. mereka sama-sama baju khas dari Indonesia. Namun yang membedakan mereka yaitu asal dan corak nya. Banyak yang belum mengenal apa itu endek. yaa mungkin kalau yang sudah mengenal seluk beluk budaya bali pasti tidak asing dengan kain yang satu ini. Kalau dibali sih nama endek mamang sudah tenar duluan dan sering dipakai sebagai pakaian resmi kantor maupun sekolah-sekolah. Hal ini sebagai identitas sekaligus #misibudaya yang harus dan kudu dibanggakan. 

Kebanggaan saat memakai pakaian khas ini sangat terasa ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya di luar Pulau Bali. Ketika itu ada sebuah peraturan kampus dimana setiap hari Kamis seluruh warga FISIP (kebetulan saya jurusan ilkom) wajib menggunakan pakaian batik atau yang bercorak batik. Regulasi ini menurut saya bagus karna melalui gerakan ini kita sebagai mahasiswa yang notabene boleh menggunakan pakaian bebas (bukan lagi seragam :))) ) tidak lupa dengan budaya sendiri apalagi baju batik yang sudah melalang buana di dunia. Nah… saat diperkuliahan itu saya mulai tertarik dengan pakaian yang satu ini. Diam-diam saya search model baju batik yang lagi nge- trend dan ternyata saya baru menyadari bahwa batik juga bisa dibuat baju yang gak kalah stylist nya (sumpah :” ini baru nyadar). Setelah itu saya mulai menyukai baju-baju yang berbau batik.

Lalu, ketika ada event kampus yang saat itu harus menggunakan batik tapi berhubung saat itu batik saya belum kering (habis dicuci sodara2 :”) yaa akhirnya saya memilih baju endek satu-satu yang saya bawa dari bali warnanya ungu dengan corak lurik nya. Ketika saya pakai, teman saya bertanya “eh itu baju batik nya bagus” “ini bukan batik tapi endek” “apa itu endek?” ” baju khasnya bali” “oh.. bagus juga yaa” dari situlah saya baru mengerti ternyata belum ada yang yang mengenal endek tidak seperti batik. Dari sana akhirnya saya membuat proyek dengan mama yang kebetulan bisa menjahit. Saya meminta untuk dibuatkan blazer dari endek dan akhirnya saya yang mendesain sedangkan mama yang menjahit sesuai desain yang saya berikan (mama emang terbaik). Warna kain endeknya merah dengan motif lurik-lurik. Setelah jadi saya pakai itu blazer ke kampus dan ternyataaaa mendapat respon yang baik dari teman-teman kampus. Ada juga yang nanya beli dimana lalu saya jawab home made. Walaupun masih sebatas menyukai belum keranah jual-beli namun dari sini saya merasa bangga ketika memakai endek ini. Bangga nya karena selain bisa menjalankan #misibudaya saya juga bisa memakai dengan leluasa. Banyak generasi sekarang yang merasa kurang pede saat menggunakan pakaian khas nya. Dikira kuno lah, kayak nenek-nenek lah, lah, lah, lah. Tapi kalau kalian bisa membuka pikiran kuno itu menjadi lebih moderen maka kalian akan menemukan bahwa sesungguhnya memakai pakaian khas daerah (apalagi endek) itu MEMBANGGAKAN. Sekarang kan banyak tuh model-model baju yang yang makin kece badai nahhh kalian harusnya bisa berimajinasi bagaimana kalau model baju ini saya gunakan kain batk/endek pasti akan lebih menarik gengs :))).

Sejak saat itu setiap kali saya pulang saya selalu ada aja projek dengan mama saya. yang bikin baju lah, rok lah, setelan lah, dll. Saya berkeinginan untuk mengenalkan baju endek kepada masyarakat di luar bali. So exciting…. berada diantara banyak orang dan memakai pakaian yang berbeda, lain dari pada yang lain itu sangat mengesankan. #misibudaya itu perlahan-lahan dapat terwujud kalau kita senang dengan apa yang kita kenakan dan mendapat respon yang baik di masyarakat. Untuk kedepannya semoga nama endek bisa sepopuler dengan batik apalagi dikalangan remaja yang sekarang makin eksis dan bahkan menjadi influenzer di masyarakat. Bangga itu bukan hanya semata-mata dikenal banyak orang namun lebih dari itu kebanggaan yang sesungguhnya ketika kita bisa mengenalkan budaya sendiri kepada orang lain

 

Dark Claire

Review Movie : Never Gone (2016)

Hasil gambar

 

Genre / Jenis Film:  Drama, Romance
Sutradara Film: Zhou Tuo Ru
Rumah Produksi Film: Beijing Ruyi Xinxin Film Investment
Penulis Naskah skenario/Novel Film: Yi Wu Xin, Tuo Ru Zhou
Lokasi pembuatan Film: Shanghai, China
Durasi Film: 100 Menit
Tanggal Rilis/Tayang Film: 15 July 2016 (USA)
Negara asal Film: China
Bahasa Film: Chinese

Pemain (Cast)

Kris Wu berperan sebagai Cheng Zheng
Yifei Liu berperan sebagai Su Yun Jin
Shijia Jin berperan sebagai Zhou Ziyi
Qin Li berperan sebagai Meng Xue
Li Meng berperan sebagai Mo Yu Hua
Shao-Wen Hao berperan sebagai Song Ming
Kimi Qiao berperan sebagai Shen Ju An

Never Gone atau judul lainnya So Young 2 merupakan drama romantis China yang disutradarai oleh Zhou Tuo Ru. Film ini diangkat dari novel populer karya Xin Yiwu. Film ini bercerita tentang kisah cinta beda derajat antara anak desa bernama Su Yun Jin yang merantau demi mewujudkan cita-cita orang tua nya dan bersekolah di SMA ternama dengan lelaki tampan nan cerdas, konglomerat, dan menjadi idola di SMA, Cheng Zheng. Baru menjejakkan kaki pertama di sekolah, Su Yun Jin sudah mendapat masalah dengan Cheng Zheng. Mulai dari kecripatan air, nilai yang buruk, dan dipermalukan oleh teman-teman dikelasnya. Apesnya lagi Su Yun Jin satu kelas dengan Cheng Zheng dan ia duduk tepat didepan Cheng Zheng. Mengetahui bahwa Su Yin Jin lemah soal pelajaran, maka Cheng Zhen berniat untuk menjadi guru baginya. Awalnya Su Yun Jin tak mau karena merasa muak dengan kelakuan Cheng Zhen yang terus menerus mengganggu kehidupannyanya yang damai. Namun pada akhirnya ia menerima tawaran Cheng Zhen dan mulai menerima kehadirannya. Nah… Dari sanalah benih-benih cinta itu tumbuh. Diam-diam Cheng Zhen menaruh hati pada Su Yun Jin. Karena Su Yun Jin merasa tidak pantas berada disisi Cheng Zhen dan memilih untuk pergi meninggalkannya.  yang namanya jodoh selama apapun tetap akan bertemu. Beberapa tahun setelah mereka lulus SMA dan kehilangan masing-masing kontak akhirnya mereka bertemu kembali. Akan tetapi, bukannya senang malah pertemuan tersebut menjadi awal dari kisah cinta yang pelik dan berliku ditambah lagi masuknya pihak ketiga yang menjadi saingan Cheng Zhen.

*Review

Sebenernya aku nonton ini film karena ada idola yang jadi aktor utama, yap… Wu Yifan. Dari posternya saja bisa ditebak kalau ini adalah film yang menceritakana tentang masa-masa SMA yang indah nan banyak kenangan (btw posternya romantis abis…). Nah film ini mengambil alur maju-mundur yang terlihat jelas diawal cerita , dimana Sun Yun Jin sedang berada di keramaian kota New York pada tahun 2016 dan ketika prolog telah selesai dibacakan alur ceritanya kembali pada tahun 2007. Memang pada awalnya film ini terkesan membosankan dengan cerita bertemakan anak SMA yang bandel dengan sejuta masalah yang mereka miliki, dan awalnya kita bisa menebak bagaimana akhir dari cerita ini.

Hasil gambar untuk pemain never gone 2016

Yang aku kritisi disini yaitu ekspresi dari sang aktor utama (Kris Wu) terkesan dibuat-buat, tidak tulus, dan kurang menghayati, terkesan ia sedang bermain dalam sebuah MV (mungkin karena belum bisa move on dari EXO ya mass… :”) ) dan selebihnya bagus-bagus saja. Saya terkesan dengan pembawaan Crystal Liu yang polos dan mendayu-dayu yang kesannya seperti seorang wanita yang terombang-ambing pada dua pilihan, jalan atau tidak. Screen film yang terkesan redup menambah kesan dramatis pada setiap scene nya. Dan saat pengambilan scene pada saat musim dingin datang. Ehmmm makin sejuk yahhh pemirsah :”D

Hasil gambar untuk pemain never gone 2016

Namun jangan salah kebosanan akan alur cerita akan berubah ketika memasuki pertengahan film. Kekesalan pada aktris utama yang lebih memilih meninggalkan seseorang yang benar-benar mencintai dia dan menghilangnya aktor utama yang seketika digantikan oleh second lead dan menjadi pemanis buatan ketika sang aktor utama pergi sejenak. Permainan tarik ulur yang dilakukan Su Yun Jin membuat penonton merasa bahwa ia memang tidak sungguh-sungguh mencintai Chen Zheng.  Dan karena kesetiaan Cheng Zheng pada Su Yun Jin , akhirnya ia luluh dan memilih untuk ikut dengan sang lelaki tinggal di Beijing. Problematika yang lebih menonjol pada kedua pasangan ini adalah rasa egois yang tinggi (mungkin karena umur yang sama). Tapi tidak dapat dipungkiri kesetiaan Cheng Zheng yang setia menunggu selama 6 tahun agar ia bisa diterima oleh Su Yun Jin bukanlah perkara yang mudah.

Hasil gambar untuk pemain never gone 2016

“Dalam perputaran waktu, kita berlari dalam lingkaran, akankah orang itu menunggu kita ditempat semula?”

Begitulah kutipan dari film tersebut. Film yang menggangkat cerita tentang kesetiaan dan kerinduan akan seseorang namun terhalang oleh banyaknya masalah. Namun, dibalik kesedihan dalam masa penantian ada suatu nilai yang kita dapatkan bahwa seseorang yang memang tulus tak akan pergi lama-lama dan mereka selalu kembali disaat yang tepat.

Hasil gambar untuk pemain never gone 2016

Hasil gambar untuk pemain never gone 2016

Trailer Movie : Never Gone (2016)

Golden Love

  • Epilog…..

         Langit nampak mendung sedari tadi, udara dingin dan kabut menyelimuti pemakaman ini. Tak lama air langit pun membasahi tanah dan membuat rerumputan di sekitarnya mengeluarkan aroma khasnya. Dibawah payung Ana membawa bouquet bunga magnolia putih. Dengan wajah sayu nya ia menyusuri jalan setapak melewati nisan demi nisan sampai ia berhenti di sebuah batu nisan tertulis Alan Keswa. Ternyata bukan dia yang pertama meletakkan karangan bunga di atas nisan Alan. Seseorang telah mengunjunginya lebih dulu. Ana mencari cari sosok itu di balik hujan namun sayang hujan terlalu deras ditambah kabut yang semakin tebal. Ah… Mungkin itu teman Alan yang singgah sebentar. Pandangannya kembali ke batu nisan. Menyapa dan berbicara dengan diri sendiri. Air mata Ana menumpuk dipelupuk matanya namun dia menahannya karna ia tahu Alan tidak suka dengan air mata kesedihan.
“Apa kau sudah senang? Kau senang meninggalkan semuanya?”

————

Pagi yang sangat indah. Matahari membangunkan Ana dari mimpi semalam. Sudah lebih dari dua hari Ana tidak beranjak dari tempat tidurnya. Karna hujan deras saat ia pergi ke pemakaman. Sisa-sisa tisu berceceran di lantai. Ia enggan untuk merapikan kamarnya yang sudah terbengkalai seperti kapal pecah.
Bisa dibilang ia adalah wanita yang paling sibuk di dunia. Tak ada kata untuk berhenti bekerja bahkan saat libur pun ia mengambil job tambahan. Sungguh baru kali ini ia berhenti sejenak dan meluangkan semua waktunya di tempat tidur. Mungkin ia harus berterima kasih pada hujan karna sudah membuat ia tertidur pulas saat itu.

Sebuah telfon masuk dan dengan malasnya Ana menggeser layar handphonenya tanpa melihat siapa yang menelponnya. “Halo….?” jawab ana dengan suara parau. “Ana apakah kau sudah sembuh? Kalau sudah bagaimana kalau kita bertemu untuk membicaran proyek kita bulan ini?” Tanya seseorang dalam telpon. Hal ini membuat ana setengah jengkel dan ingin memaki orang seberang yang sedang menelponnya. Tapi ia mengurungkan niatnya karna ia tau bahwa yang menelponnya adalah investor yang sering mengajaknya untuk mengerjakan proyek bangunan resortnya. Ya bisa di bilang ia adalah partner kerjanya. “oh baik lah. Kapan aku bisa menemui mu Mr. Rob? Haruskah kita bertemu di cafe bar seperti biasa?” kata Ana sambil tertawa garing. Baiklah Ana kau harus bertahan, ini semua demi menyambung hidupmu dan adikmu.
—————-

Ana menyusuri jalanan dekat apartemennya menuju coffe bar yang hanya beberapa meter dari apartemennya. Dengan notebook dan agenda di tangannya. Ia pun akhirnya sampai dan memilih tempat di dalam coffe bar . Tak lama kemudian Mr. Rob akhirnya datangan dengan mobil jepp hitamnya dan segera menghampiri Ana. “Hai…apakah kau sudah lama menunggu?” tanya Mr. Rob. “tidak…aku juga baru saja sampai” jawab Ana.
Mereka pun akhirnya memulai meeting kecil dan mendiskusikan tentang proyek yang mereka akan lakukan. Sambil menyeruputi americano Rob memberitahu bahwa ada seorang Direktur baru yang akan bekerja sama untuk membangun resortnya, ia akan menginvestasikan uangnya untuk resortnya. Raut wajah senang tergambar di wajah Rob. Ia memang begitu, sangat senang jika ada orang yang mau menginvestasikan sahamnya untuk usahanya. Hitung” keuntungannya bisa berlipat-lipat.

Meeting dengan Mr.Rob telah usai. Ana memutuskan untuk bergabung dengan proyek itu.Ia memutuskan untuk mengatakan “OKE” hal itu karna ingin cepat-cepat menyelesaikan meetingnya dan segera pulang. Harinya pun kembali di atas ranjang dengan segelas air dingin di atas meja kerja, ia meminumnya dengan sekali tegukan. Belum sampai ia bersentuhan dengan bantal bel apartemenya berbunyi. Ia hanya menghembuskan nafas kesal dan berjalan ke arah pintu dan mendapati sebuah surat beramplop merah muda tergeletak di atas karpet depan apartemennya. Ia menengok kanan dan kiri namun ia tak melihat seorangpun yang menjadi kurir surat itu. Dengan rasa penasaran ia mengambil surat itu dan membaca alamat yang tertera.
       To: Ana Grace
       From: Teman Lama Yang kau tolong
Begitulah alamat itu berasal. Tanpa nama hanya menyisakan teka teki. “Siapa? Teman lama?” hal itu membuat Ana semakin penasaran. Siapa gerangan yang mengiriminya surat semacam ini.

To be continued……